Website Resmi MAN 1 Cilacap

45 km/jam

by: Evo Syairazy Pradana

Napas hampir habis, retina fokus jauh, keringat di lintasan merah, sepatu saksi medan perang. Hosiko melesat dengan detak jantung, mendekati kecepatan mobil, meninggalkan pesaingnya di belakang hingga garis _finish._ Tak terkalahkan, dominan di lari 100 meter sejak kecil, lahir dengan bakat luar biasa.
Itulah sebabnya, Hosiko populer di SD Uzileks. Ia dijuluki Kaki Bertenaga Hos, plesetan dari “horsepower”, karena kecepatannya. Teman-teman selalu menjagokannya saat _class meeting._ Namun, Hosiko _di-blacklist_ bukan karena curang, tapi karena perbedaan kecepatan yang tidak masuk akal.
Hari berlalu, Hosiko kini kelas enam. Murid baru, Orepin, sangat pemalu. Saat memperkenalkan diri, Orepin terbata-bata, akhirnya disuruh duduk. Dalam penilaian lari 100 m, Orepin paling lambat dan menjadi bahan _bully-an._
Saat Hosiko berlari, Orepin ternganga melihat kecepatannya. Sepulang sekolah, Orepin memberanikan diri meminta Hosiko mengajarinya. Hosiko setuju.
Setiap sepulang sekolah, Hosiko menolak nongkrong, melatih Orepin di lapangan dekat jembatan kereta setiap hari. Teman-teman bingung dengan kebiasaannya. Bulan berlalu, Orepin lebih cepat, tapi mereka belum pernah beradu kecepatan. Kini, mereka memutuskan untuk melakukannya, serius tanpa mengalah.
Hosiko menarik garis di tanah, diiringi suara kereta. Mereka jongkok untuk persiapan start. “Sampai pohon besar,” usul Orepin. “Oke, mulai saat bunyi kereta,” kata Hosiko.
TIIN… JEDEG JEDEG… CTINGG… balapan dimulai. Hosiko melesat lebih jauh, namun sadar jika ia lari terlalu cepat, energi bisa habis. Hosiko merasa tertekan, biasanya santai. Benar, ia merasa lelah, Orepin menutup jarak.
Hosiko dan Orepin bersebelahan mendekati garis _finish._ Hosiko tidak mengalah, menekan tanah lebih keras, rahasia kecepatannya. Hosiko lebih dekat ke garis _finish,_ namun Orepin tersandung dan jatuh, dadanya melewati garis _finish_ lebih dulu. Orepin jadi pemenang, Hosiko tak menyangka kalah.
Keesokan harinya, kabar Orepin pindah sekolah karena masalah keuangan muncul. “Tulis pesan untuknya,” pinta wali kelas. Hosiko terkejut dan sedih, merasa hampa tanpa Orepin.
Enam tahun berlalu, Hosiko kini di SMA, juara bertahan Turnamen Nasional Tama lari 100 m. Seluruh negara tahu tentangnya, kini juga model majalah.
Saat ini, Hosiko menuju lintasan, Turnamen Nasional Tama diselenggarakan lagi. Ia terkejut melihat Orepin, kini juara bertahan Kompetisi Nasional Yasa. Mereka berbincang, berjanji tidak mengalah dan berjuang hingga akhir.
Hosiko dan Orepin memasuki medan perang. Hujan lebat, perlombaan tetap dilanjutkan. Mereka di jalur masing-masing, sorak penonton melebihi hujan. Kebanyakan menjagokan Hosiko dan Orepin.
Setelah semua di jalur, pistol ditembakkan. Hosiko dan Orepin melaju kencang, saling salip. Hosiko merasakan perasaan saat terakhir bersama Orepin. Ia berharap momen ini bisa terjadi lagi, air mata tersamarkan hujan.
Orepin lebih fokus dan melaju lebih cepat, melewati garis akhir. Hasilnya sama seperti dulu, tapi kini Orepin menang dengan tekad dan kerja keras. Status juara bertahan Hosiko dipatahkan Orepin. Hosiko tidak kecewa, malah bahagia. Begitu pun Orepin.

Tinggalkan komentar